Kanekes, kesederhanaan yang dirindukan

Oleh: Kelik Sumarahadi

Menanam padi di Baduy Luar (small)

 

Di Indonesia, tercatat banyak sekali komunitas adat yang unik, bahkan bisa disebut eksotik. Sayangnya, mereka justru terstigma sebagai “suku terasing” (sebutan yang diwariskan oleh pemerintahan Orde Baru). Buat saya, penggunaan sebutan “masyarakat adat” lebih pantas dan sesuai. Karena pada prinsipnya mereka adalah kumpulan orang-orang yang memilih untuk melestarikan dan menjalani hidup sedekat mungkin dengan hal-hal yang secara “adat” diwariskan kepadanya.

Salah satu masyarakat adat ini adalah masyarakat adat Baduy (walaupun saya cenderung memilih menggunakan sebutan “Kanekes). Kebanyakan orang menyebut dan mengenal mereka sebagai suku Baduy. Suatu kenyataan yang sebenarnya cukup mengejutkan. Karena mereka tinggal relatif dekat dengan pusat hingar-bingar perkembangan peradaban modern Indonesia, Jakarta. Lokasi tempat tinggal mereka hanya berjarak ±160 km saja dari Jakarta. Suatu jarak yang bisa ditempuh dalam tempo 5-6 jam saja, baik menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum.

Pada umumnya masyarakat luas mengenal masyarakat Baduy dalam 2 jenis, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Istilah yang mungkin berkembang dari penelitian para ilmuwan tentang masyarakat adat ini. Mereka sendiri menggunakan istilah Tangtu dan Panamping. Tangtu untuk mewakili pengistilahan Baduy Dalam, dan Panamping untuk Baduy Luar. Secara teknis, ada lagi jenis dari masyarakat Baduy yang biasanya tidak disebut, yaitu Baduy Dangka. Dangka adalah istilah di kalangan masyarakat Baduy bagi anggotanya yang secara turun-temurun telah hidup dan membuat kampung Baduy tetapi terletak di luar kawasan Tanah Adat mereka. Contohnya, Kampung Dangka Kompol dan Cibengkung. Atau apabila kita mau menambah kategorisasi, bisa pula kita menambahkan orang-orang Baduy yang telah meninggalkan pola hidup adat dan budayanya, serta bergabung dengan masyarakat yang notabene lebih modern dalam laku, norma, dan pola budayanya. Biasanya mereka tidak lagi hidup didalam kawasan Tanah Adat Baduy maupun Kampung Dangka.

Beberapa tahun belakangan, Kawasan Adat Baduy ramai oleh kunjungan turis. Baik lokal maupun internasional. Hal yang sedikit banyak dipengaruhi oleh pilihan hidup masyarakat Baduy untuk tetap menjaga adat dan budayanya. Suatu sikap keras kepala, secara positif, yang telah mulai langka dalam langgam irama globalisasi masa kini. Ratusan orang mendatangi kawasan ini setiap akhir pekan, hampir sepanjang tahun. Memang kebanyakan masih didominasi oleh pengunjung lokal. Tetapi tidak dapat dimungkiri, angka pengunjung internasional terus juga bertambah. Berbagai maksud dan tujuan melatarbelakangi kunjungan ini. Dari sekedar ber-selfie dengan alam dan masyarakat Baduy sampai dengan tujuan untuk menggali kearifan lokal dengan sasaran keilmuan. Berbagai dampak tentu saja terjadi akibat kunjungan-kunjungan ini. Ada baiknya saya tidak akan membahas dampak-dampak tersebut dalam tulisan ini. Di lain waktu dan kesempatan kita bisa saja mendiskusikan hal ini.

Berpergian, atau dalam bahasa Indonesia masa kini ngetrip, belakangan telah menjadi budaya yang semakin merajalela. Semakin populer dengan dukungan teknologi mutakhir yang menjadi mudah, murah, dan menyenangkan untuk digunakan. Terutama media sosial. Semaraknya gerakan hijau (go green) dalam beberapa dekade terakhir juga membuat perjalanan ke daerah-daerah yang masih terjaga keasriannya diminati. Dan kita di Indonesia tentu menerima pula ide tersebut. Apalagi bila daerah tersebut juga didiami oleh individu ataupun komunitas yang secara terus-menerus mampu menjaganya. Salah satu daerah yang bisa kita sebut tentu saja adalah Kawasan Hak Ulayat Masyarakat Baduy.

Kawasan Hak Ulayat Masyarakat Baduy memiliki luas ± 5100 hektar. Didominasi oleh perbukitan dan lembah-lembah yang memiliki elevasi antara ± 150 s/d 400 meter diatas permukaan laut. Jadi pada prinsipnya, mereka adalah masyarakat pegunungan. Bila anda memiliki keinginan untuk berkunjung ke daerah ini, alangkah baiknya kita menggunakan peralatan yang sesuai. Dan mempersiapkan diri untuk berjalan mendaki bukit dan menuruni lembah, selama berkali-kali. Karena kita bukan mereka, yang secara fisik telah terbangun untuk hidup di kawasan ini. Bila kita telah masuk dalam kawasan Baduy, maka satu-satunya moda transportasi adalah kaki kita, segala macam moda transportasi tidak diperbolehkan memasuki wilayah ini. Tapi tentunya kita tidak bisa menyamakan berjalan kaki didalam wilayah Baduy dengan berjalan kaki ditengah kota. Keasrian dan pemandangan alamnya seringkali membuat kita terpukau. Bahkan kita bisa sangat menikmati gas karbon yang terproduksi secara alami dalam keseimbangan, suatu hal yang mungkin tidak bisa kita klaim lagi di tempat tinggal kita. Satu hal sederhana yang jarang kita sadari.

Ada beberapa jalan masuk ke kawasan Baduy. Yang paling utama dan paling terkenal adalah Kampung Ciboleger. Tempat yang bisa dicapai dengan menggunakan minibus lokal dari kota Rangkasbitung, Lebak, Banten. Di kampung Ciboleger, yang tentunya sudah sangat turistik, banyak terdapat toko-toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari maupun barang cendera mata. Berbatasan langsung dengan kampung Ciboleger adalah kampung Baduy Cigowel. Kampung dimana Jaro Pamarentah Masyarakat Baduy tinggal. Jaro Pamarentah bertugas menjadi jembatan antara masyarakat Baduy dengan pemerintah lokal dan keatasnya. Hal yang telah berlangsung sekian lama. Suatu prinsip laku yang menurut hemat saya adalah bentuk menghargai dan menghormati dunia yang berputar di luar kehidupan mereka.

Begitu kita memasuki kampung Cigowel, kesederhanaan yang kontras akan mulai terlihat. Di perbatasan bagian Ciboleger masih terlihat beberapa bangunan bertembok beratapkan genteng tanah liat atau metal. Terlihat pula satu sekolah dasar negeri dengan warna dan bentuk lazimnya bangunan sekolah di berbagai kawasan Indonesia. Begitu kita melewati batas kampung maka bangunan bertembok digantikan oleh rumah-rumah panggung beratap rumbia dengan dinding dan lantai terbuat dari bambu, dengan warna-warna alami tentu saja. Di malam hari kekontrasan ini akan semakin terlihat dengan jelas. Kampung Ciboleger menyala dengan terang dari cahaya lampu listrik, sementara kampung Cigowel terlihat temaram saja dengan cahaya pelita atau lampu bertenaga matahari. Semakin kita berjalan ke dalam kawasan Baduy, maka kualitas kesederhanaan semakin bertambah. Jalanan berbatu yang diselingi jalan tanah seringkali hanya cukup untuk 2 orang saling berpapasan. Jadi sebaiknya kita berjalan secara berbaris dalam satu banjar saja bila kita datang dalam jumlah banyak. Kita pun akan melihat berbagai bangunan, selain rumah tinggal, baik yang dimiliki secara pribadi ataupun komunal dengan material dari bahan-bahan alami. Lumbung padi, jembatan, tempat beristirahat di ladang, kamar mandi, dan berbagai macam bangunan lainnya dengan fungsi dan penataan yang jelas. Satu gambaran yang mewakili kesederhanaan pilihan hidup yang dijalani masyarakat Baduy.

Dari Ciboleger, titik paling terkenal untuk masuk menuju kawasan Baduy, berjalan kaki menuju kawasan Baduy Dalam Kampung Cibeo dibutuhkan waktu secara relatif selama 3-4 jam. Di musim hujan mungkin menjadi 5-6 jam. Dikarenakan jalur jalan yang licin. Sedangkan untuk mencapai kampung Gajeboh, salah satu kampung Baduy Luar terbesar dengan jembatan bambu terpanjang di kawasan Baduy, dapat ditempuh selama satu jam dari Ciboleger. Tergantung pilihan anda, dimana anda ingin menghabiskan waktu selama berada di Baduy, di kawasan Baduy Dalam atau Baduy Luar. Di banyak kampung Baduy Luar saat ini sudah tersedia kamar mandi sederhana. Jadi anda tidak perlu lagi pergi ke sungai untuk menunaikan panggilan alam anda. Walaupun tidak bisa kita bohongi, menghabiskan waktu di sungai ternyata menenangkan, selain menyenangkan tentunya. Kamar mandi tentu tidak tersedia didalam kawasan Baduy Dalam. Mereka bahkan hidup lebih sederhana lagi dibandingkan masyarakat Baduy Luar. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan diri, anda harus pergi ke sungai. Dan di kawasan Baduy Dalam, segala macam deterjen dilarang digunakan. Sabun, pasta gigi, sabun cuci, dan kawan-kawannya sebaiknya tetap tinggal di tas saja. Harapan untuk bisa menggunakan handphone pun sebaiknya anda lupakan. Di banyak tempat di kawasan Baduy, sinyal operator komunikasi adalah sebuah ilusi. Walaupun di beberapa titik anda mungkin bisa menemukannya. Satu hal yang mungkin sebaiknya kita syukuri. Di kawasan Baduy kita tidak perlu menatap dinginnya layar digital untuk berbicara kepada orang lain, kita dapat langsung menatap mata dan menangkap ekspresi lawan bicara kita. Suatu kehangatan sederhana yang belakangan menjadi semakin langka.

Berpergian dan mengunjungi masyarakat adat secara nyata adalah mendatangi kembali kesederhanaan. Baik mereka tinggal tinggi dibelai kabut pegunungan ataupun bila mereka hidup di pelukan hangat mentari pesisir laut. Menjalani dan memilih hidup sederhana ternyata tidak sesederhana itu. Merayakan kesederhanaan mungkin satu hal kecil yang bisa kita pilih dan lakukan ditengah tekanan globalisasi, hiruk-pikuk komunikasi modern antar-manusia, ataupun hingar-bingar like-dislike media sosial. Bagaimana cara merayakan kesederhanaan? Mungkin salah satunya dengan mengunjungi masyarakat-masyarakat adat (tolong, jangan sebut mereka suku-suku terasing). Lihat dan pelajari bagaimana mereka merayakan itu, hal-hal yang ternyata mampu membuat mereka bertahan sampai saat ini.

Enough said, let’s roam..!

 

 

 

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text.
0

Start typing and press Enter to search